Selasa, 11 Juni 2013

pembawa islam ke lumajang

Syekh Abdurahman (pembawa Islam ke Lumajang)

Nama lengkap beliau adalah Syekh ABDURRAHMAN bin Muhammad bin Syaiban bin Aly bin Abbas bin Syafi’ binTsaqib bin Umar bin Utsman bin Abu Bakar bin Utsman bin Muhammad bin Abdulloh bin Umar bin Bakar bin Aly bin Gholib bin Quraisy bin Abdulloh bin Al Qutub Assyekh Syaiban AI Iraqi Al Bagdadi Rodliyallohu ‘anhu bin Abdulloh bin Abbas bin Abdulloh bin Abbas Ibnu Abdul Mutholib Asshohabi Rodliyallohu ‘anhu wa’anhum ajma’in.

Beliau dilahirkan Tahun 1111 Masehi di Baghdad Iraq. Masa hidupnya 189 Tahun. Muksa di Goa Biting Lumajang Tahun 1300 Masehi dalam keadaan Puasa dan Seluruh Fisiknya masih Utuh. Kakek beliau Qutub Syekh Syaiban Al Iraqi Al Bagdadi. sepupu Imam Ahmad Bin Hambal Assyaibani. Beliau bermarga Assyaibani Beliau pernah menuntut ilmu agama di Mekkah, hafal ALQUR’AN dan HADISTS dan telah melaksanakan Ibadah Haji sebanyak 28 kali (wew). Pada usia 30 tahun Beliau hijrah ke Yaman. Kemudian beliau hijrah ke daerah Timur. Sampai di Aceh menikah dengan Cut Nazilah.
Beliau menyebarkan agama Islam di Indonesia mulai dari Aceh sampai Ternate, dengan cara TUTWURIHANDAYANI. Sehingga banyak kalangan Elite dan Pejabat waktu itu yang masuk agama Islam.

Postur tubuhnya Tinggi besar, hidung mancung, warna kulit Cokelat. Beliau selalu mamakai Jubah dan Surban warna Kuning krem, membawa tongkat panjang/tongkat khotbah yang ujungnya berlambang Ka’bah dalam lingkaran Tasbih, ditengah Ka’bah ada gambar  Bintang Segi Lima.

Beliau selalu berdzikir ALLAH ALLAH dan membaca sholawat. Sholawat khusus beliau adalah “BISSMIKAALLOHUMMA WABIHAMDIKA SHOLLI ‘ALA SAYIDINA MUHAMMAD WA ALIHI WASHOHBIHI WABARIK WASALLIM WAKARRIM”. Juga melakukan puasa Wishol yaitu puasa 40 hari 40 malam tanpa tidur.

Thoriqoh beliau, thoreqoh MULAMIYYAH dari Bagdad. Mursyid atau Gurunya Imam Hamdun Al Qozar dari zaman Tabi’in. Thoriqot ini sebagian ajarannya mengajarkan “Tidak menunjukan kebaikan diri dan tidak pula menyimpan kejelekan di hati”.

Isteri-isteri beliau :
·   Cut Nazilah dari Aceh
·   Sheikhoh Aisyah Binti Muhammad Al Marbawi dari Aceh
·   Signorita Miguela dari Portugis
·   Roro Wulandari Bibi dari Minak Koncar Lumajang.


Keturunan-keturunan beliau tersebar di beberapa Bangsa.

Kekeramatan Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA adalah :
·   Bisa berbicara semua Bahasa, termasuk bahasa Malaikat, jin dan Hewan.
·   Segala Hajat yang dinginkan beliau Insya Allah terkabul
·   Dalam berdakwah tidak membutuhkan kendaraan, kemana-mana asal tujuan dakwah bisa sampai tujuan dalam hitungan Detik.

Fatwa-fatwa Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA diantaranya :
·   Allah itu Maha Segalanya.
·   Taqwa itu Sholat, Tasbih dan Puasa
·   Islam itu Damai seluruh Dunia
·   Ilmu itu supaya bertambah, harus di Amalkan.
·   Makan itu untuk Hidup, kalau tidak terpaksa Tidak Makan
·   Hukum dan Pemeritah itu apa Kata Rakyat


Murid-murid Syeikh Abdurrohman Assyaibani RA, diantaranya:
·   Syekh Abdullah (dulu makamnya di SDN1 atau BRI Lumajang. Sekarang dipindah ke makam umum Jogoyudan Lumajang)
·   Syekh Muhammad Anas dari Demak. (Makamnya di belakang Masjid Jamik Anas Mahfud Lumajang)
Lain-lain :
Ø   Banyak orang terkabul hajat dan do’a setelah berziarah ke makam beliau.
Ø   Mengaharap kritik dan Essay dari khalayak dan semua pihak.
Demikian sejarah singkat dan riwayat hidup Syeikh Abdurrohman Assyaibani
Sekarang,, makam syekh Abdurrahman masih ada di kawasan bitting tepatnya di bagian barat dari makam Minak koncar dan anak-anaknya.

Nah pohon yang di timur makamnya itu konon di tanam saat syekh Abdurrahman dimakamkan,,.. dulu sih masi kecil sekarang ya udah besar.
Dan makam ini satu kompleks dengan makamnya Minak koncar

 

sejarah kota lumajang

SEJARAH SINGKAT KOTA LUMAJANG
          Bumi LUMAJANG sejak jaman Nirleka dikenal sebagai daerah yang "PANJANG-PUNJUNG PASIR WUKIR GEMAH RIPAH LOH JINAWI TATA TENTREM KERTA RAHARJA".
          PANJANG-PUNJUNG berarti memiliki sejarah yang lama. Dari peninggalan-peninggalan Nirleka maupun prasasti yang banyak ditemukan di daerah Lumajang cukup membuktikan hal itu.
          Beberapa prasasti yang pernah ditemukan, antara lain Prasasti Ranu Gumbolo. Dalam prasasti tersebut terbaca "LING DEVA MPU KAMESWARA TIRTAYATRA". Pokok-pokok isinya adalah bahwa Raja Kameswara dari Kediri pernah melakukan TIRTAYATRA ke dusun Tesirejo kecamatan Pasrujambe, juga pernah ditemukan prasasti yang merujuk pada masa pemerintahan Raja Kediri KERTAJAYA.
Beberapa bukti peninggalan yang ada antara lain :
  1. Prasasti Mula Malurung
  2. Naskah Negara Kertagama
  3. Kitab Pararaton
  4. Kidung Harsa Wijaya
  5. Kitab Pujangga Manik
  6. Serat Babat Tanah Jawi
  7. Serat Kanda
          Dari Prasasti Mula Manurung yang ditemukan di Kediri pada tahun 1975 dan ber-angka tahun 1177 Saka (1255 Masehi) diperoleh informasi bahwa NARARYYA KIRANA, salah satu dari anak Raja Sminingrat (Wisnu Wardhana) dari Kerajaan Singosari, dikukuhkan sebagai Adipati (raja kecil) di LAMAJANG(Lumajang). Pada tahun 1255 Masehi, tahun yang merujuk pada pengangkatan NARARYYA KIRANA sebagai Adipati di Lumajang inilah yang kemudian dijadikan sebagai sebagai dasar penetapan Hari Jadi Lumajang (HARJALU).
          Dalam Buku Pararaton dan KIDUNG HARSYA WIJAYA disebutkan bahwa para pengikut Raden Wijaya atau Kertarajasa dalam mendirikan Majapahit, semuanya diangkat sebagai Pejabat Tinggi Kerajaan. Di antaranya Arya Wiraraja diangkat Maha Wiradikara dan ditempatkan di Lumajang, dan putranya yaitu Pu Tambi atau Nambi diangkat sebagai Rakyan Mapatih.
          Pengangkatan Nambi sebagai Mapatih inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan di Majapahit. Apalagi dengan munculnya Mahapati(Ramapati) seorang yang cerdas, ambisius dan amat licik. Dengan kepandaiannya berbicara, Mahapati berhasil mempengaruhi Raja. Setelah berhasil menyingkirkan Ranggalawe, Kebo Anabrang, Lembu Suro, dan Gajah Biru, target berikutnya adalah Nambi.
          Nambi yang mengetahui akan maksud jahat itu merasa lebih baik menyingkir dari Majapahit. Kebetulan memang ada alasan, yaitu ayahnya(Arya Wiraraja) sedang sakit, maka Nambi minta izin kepada Raja untuk pulang ke Lumajang. Setelah Wiraraja meninggal pada tahun 1317 Masehi, Nambi tidak mau kembali ke Majapahit, bahkan membangun Beteng di Pajarakan. Pada 1316, Pajarakan diserbu pasukan Majapahit. Lumajang diduduki dan Nambi serta keluarganya dibunuh.
          Pupuh 22 lontar NAGARA KERTAGAMA yang ditulis oleh Prapanca menguraikan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Lumajang. Selain NAGARA KERTAGAMA, informasi tentang Lumajang diperoleh dari Buku Babad. Dalam beberapa buku babad terdapat nama-nama penguasa Lumajang, yaitu WANGSENGRANA, PUTUT LAWA, MENAK KUNCARA(MENAK KONCAR) dan TUMENGGUNG KERTANEGARA. Oleh karena kemunculan tokoh-tokoh itu tidak disukung adanya bukti-bukti yang berupa bangunan kuno, keramik kuno, ataupun prasasti, maka nama-nama seperti MENAK KONCAR hanyalah tokoh dongeng belaka.
          Di tepi Alun-alun Lumajang sebelah utara terdapat bangunan mirip candi, berlubang tembus, terdapat CANDRA SENGKALA yang berbunyi "TRUSING NGASTA MUKA PRAJA" (TRUS=9, NGASTA=2, MUKA=9, PRAJA=1). Bangunan ini merupakan tetenger atau penanda, ditujukan untuk mengenang peristiwa bersejarah, yaitu pada tahun 1929. Lumajang dinaikkan statusnya menjadi REGENTSCAH otonom per 1 Januari 1929 sesuai Statblat Nomor 319, 9 Agustus 1928. Regentnya RT KERTO ADIREJO, eks Patih Afdelling Lumajang (sebelumnya Lumajang masuk wilayah administratif Kepatihan dari Afdelling Regentstaschap atau Pemerintah Kabupaten Probolinggo).
          Pada masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1942-1949, Lumajang dijadikan sebagai basis perjuangan TNI dengan dukungan rakyat.
          Nama-nama seperti KAPTEN KYAI ILYAS, SUWANDAK, SUKERTIYO, dan lain-lainnya, baik yang gugur maupun tidak, yang dikenal atau tak dikenal, adalah para kusuma bangsa yang dengan meneruskan perjuangan para pahlawan kusuma bangsa itu dengan bekerja secara tulus, menjauhkan kepentingan pribadi, jujur, amanah, dan bersedia berkorban demi kemajuan Lumajang Tercinta.
          Mengingat keberadaan Negara Lamajang sudah cukup meyakinkan bahwa 1255M itu Lamajang sudah merupakan sebuah negara berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Derah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990
          Sejak tahun 1928 Pemerintahan Belanda menyerahkan segala urusan segala pemerintahan kepada Bupati Lumajang pertama KRT Kertodirejo. Yang ditandai dengan monumen / tugu yang terletak di depan pintu gerbang Alun-alun sebelah utara.